Rabu, 01 Desember 2010

Bagaimana Terbentuknya Bumi????


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “ Bagaimana Terbentuknya Bumi ini? “.
Penulisan ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah softskill. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya kami sebagai penulis berharap semoga Allah memberikan pahala yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal’Alamiin.
                                                                                               

Bekasi, 15 November 2010


         Penulis

BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang
            Terpikirkah dibenak  kalian bagaimanakah Tuhan menciptakan bumi dan seluruh isinya, bintang-bintang di langit, bulan di waktu malam,  dan matahari di waktu siang? Bagaimana gunung, laut, lembah, dan sungai terbentuk? Bagaimana pula diri kita, tumbuh-tumbuhan, dan hewan tercipta?. Maksud dan tujuan makalah ini saya buat yaitu untuk menjelaskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang berasal dari berbagai sumber yang sudah saya cari.
            Marilah kita bahas pendapat para cerdik cendikiawan tentang bentuk bumi, teori-teori pembentukan bumi, perkembangan relief muka bumi, pergeseran benua-benua, dan perkembangan makhluk hidup yang menghuninya.

Rumusan Masalah
a). Apa itu bumi?
b). Bagaimanakah proses terbentuknya bumi?


BAB II
Pembahasan
A.    Bumi dan Bentuknya
Apa itu bumi? Bumi adalah udara yang termampatkan hingga bentuknya pipih, melayang-layang di udara menurut Anaximander (585-528 SM) dan Phytagoras (580-500 SM) menyatakan bahwa bumi berbentuk bola. 
Saat ini semua orang akan mengatakan bahwa bentuk bumi itu bulat seperti bola. Tetapi pada masa sebelum kelahiran Isa Al-Masih (sebelum masehi/SM) orang berpendapat bahwa bumi berbentuk datar seperti nyiru. Thales (624-547 SM) filosof dari Yunani mengemukakan bahwa bumi seperti nyiru yang terapung di atas laut. Jika terkena gelombang, maka bumi akan terguncang dan jadilah gempa bumi. Anaximander (585-528 SM) menyatakan bahwa bumi adalah udara yang termampatkan hingga bentuknya pipih, dan melayang-layang di udara. Barulah kemudian si cerdas Phytagoras (580-500 SM) menyatakan bahwa bumi berbentuk bola. Tetapi tidak begitu saja orang percaya, bahkan ia harus berhadapan dengan kaum gereja yang berpegang pada agama. Untunglah ada yang memperkuat setelah tiga abad kemudian. Erathostenes (275-195 SM) dari Alexandria adalah orang yang pertama melakukan pengukuran besarnya bola bumi.
Secara tradisional diketahui bahwa sinar matahari hanya menyinari sampai bagian dasar sebuah sumur tua di Syene (asuan) pada tanggal 20-22 Juni setiap tahun. Ini berarti bahwa kota Syene terletak pada garis utara (23,50 LU). Jarak Syene dari Alexandria yang diasumsikan tepat di utaranya telah diketahui dari dinas ukur tanah, yaitu 5000 stadia, sehingga apa yang perlu dilakukan Erathosthenes tinggal mengukur selisih sudut (kemiringan matahari) di Alexandria pada tanggal 21 Juni. Beda sudut 70 lewat sedikit yang didapatkan berarti bahwa Syene – Alexandria yang merupakan busur meridian besarnya sama dengan 1/50 lingkaran meridian (keliling bumi). Maka didapatkan ukuran keliling bumi 250.000 stadia atau sama dengan ukuran sekitar 28.000 mil (kurang lebih 43.000 km).

          
          Bola bumi bukan bola yang sempurna, melainkan bola yang sedikit pepat pada kedua kutubnya. Jika bumi dibelah melalui kedua kutubnya akan menghasilkan penampang berbentuk elips, jika sebuah elips diputar, akan menghasilkan bentuk elipsoida. Elipsoida adalah bentuk bumi yang seharusnya. Tetapi elipsoida bumi tidak sempurna (diduga jari-jari kutub utara dan kutub selatan tidak sama, buktinya posisi bumi miring 23°1/2° terhadap bidang edarnya mengelilingi matahari). Oleh karena itu, elipsoida bumi disebut geoida

A.    Hipotesis-hipotesis Terbentuknya Bumi
Orang yang pertama kali menuliskan dugaan (hipotesis) terbentuknya bumi dan seluruh alam semesta dengan menggunakan hukum-hukum fisika adalah seorang filosof Jerman bernama Immanuel Kant (1755), dalam bukunya yang berjudul Allgemeine geschichte und Theorie des Himmels nach newtonischen Grundsatzen behandelt. Dalam kurun waktu yang tidak jauh berbeda di Prancis, seorang filosof dan ahli matematika bernama Pierre de Laplace (1796) juga mengumumkan hipotesis tentang terbentuknya bumi. Secara kebetulan jalan pikiran mereka mirip sekali, sehingga dalam perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya disatukan menjadi Hipotesis Kabut Kant-Laplace, karena keduanya memulai pikirannya bahwa pembentukan alam semesta dari adanya gumpalan kabut gas yang disebut nebula. Kabut gas tersebut berputar pada porosnya, sehingga makin lama makin pepat pada kabutnya (karena gaya sentripetal), dan pada bagian ekuatornya makin mengembang (karena gaya sentrifugal). Akibat selanjutnya terjadilah pelepasan gelang-gelang seperti pada planet Sartunus. Bagian pusatnya menjadi matahari, dan pada gelang-gelang tersebut terjadi konsentrasi pada satu titik, menjadi planet-planet, yang terus berputar di sekelilingnya.

Kira-kira 100 tahun kemudian muncul hipotesis lain yang disusun oleh seorang ahli geologi Chamberline dan seorang ahli astronomi Moulton. Mereka menduga bahwa pada awalnya ada sebuah matahari yang dalam perjalanannya berpapasan dengan matahari lain. Keduanya saling tertarik, sehingga terjadi pasang seperti pasang air laut. Ketika pasangnya mencapai titik kritis, terjadilah ledakan hebat pada bagian tersebut. Puing-puingnya yang disebut planetesimal berhamburan di sekeliling matahari asal. Selanjutnya berlakulah hukum gravitasi, planetesimal yang besar massanya menarik yang lebih kecil, hingga terbentuk beberapa gumpalan (planet) yang terus beredar mengelilingi induknya. Hipotesis ini disebut Hipotesis Planetesimal.

Selanjutnya hipotesis planetesimal diperbaiki oleh Jeans dan Jeffereys, menjadi Hipotesis Pasang-Surut Gas. Menurut mereka bagian pasang dari matahari asal tidak meledak dan menghamburkan planetesimal, melainkan terlepas dengan pelan. Sebelum terlepas benjolan pasang tersebut sempat mengalami tarik-menarik antara kedua matahari, sehingga bentuknya seperti cerutu. Ketika terlepas bentuk cerutu tersebut terus bergulir mengelilingi matahari induk, sambil mengalami konsentrasi di sembilan titik, sehingga membentuk sembilan bola-bola kecil. Bola-bola yang diujung lebih kecil daripada yang di bagian tengah, itulah bentuk dan ukuran planet-planet kita sekarang.

Setelah itu masih banyak hipotesis-hipotesis yang muncul, semuanya logis, karena didasarkan pada kenyataan yang ada sekarang. Hipotesis sangat mengejutkan karena didasarkan pada dua hal  yang selama ini belum diamati secara awam. Dasar tersebut adalah :
1.      Hasil pengamatan dengan teleskop-radio (tekniknya disebut teknik radio-astronomi) oleh Arno Penzias dan Robert Wilson di Bell Labolatories, New Jersey, Amerika Serikat 1965, diketahui adanya “radiasi dari gema ledakan” yang masih berlangsung hingga saat ini, yang melatar belakangi seluruh radiasi-radiasi di alam semesta. Gema itu kemudian disebut radiasi latar belakang, yang diduga berasal dari sebuah ledakan dasyat, jika tidak, maka tidak mungkin gemanya masih ada. Jika diputar balik ledakan tersebut terjadi kira-kira 15 mmilyar tahun lalu.
2.      Hasil pengamatan Edwin Hubble, ketika melakukan pengukuran jarak galaksi-galaksi, dengan menggunakan analisis spektrum, diperoleh kenyataan bahwa spektrum pancaran galaksi-galaksi banyak bergeser ke arah panjang gelombang merah (intensitas lemah), yang artinya makin menjauhi pengamat. Semakin besar pergeseran merahnya, berarti semakin cepat gerak menjauhnya. Kekuatan cahaya berbanding terbalik dengan jaraknya. Cahaya yang kuat berarti jaraknya dekat, dan cahaya yang redup/merah jaraknya jauh, itulah yang disebut Efek Doppler. Jika pergeseran tersebut diputar balik, pasti akan terkumpul kembali ke satu titik alam semesta.

Dari kenyataan-kenyataan tersebut, kemudian terpikirkan bahwa titik pusat awal tersebut merupakan sebuah atom primordial (mula jadi), ada yang menyebutnya “telur kosmik”, mempunyai suhu dan tekanan yang tinggi. Hingga suatu saat suhu dan tekanan mencapai titik kritis, atom tersebut meledak dengan kekuatan  mahadasyat (Big Bang). Puing-puing halusnya bertebaran ke seluruh penjuru, dan terus bergerak menjauhi titik pusatnya. Puing yang besar akan menarik yang kecil, hingga terbentuk unit-unit atau susunan mulai dari yang terkecil (planet dan satelitnya), tata surya, galaksi,susunan lokal, cluster, dan supercluster. Hipotesis ini kemudian dikenal dengan nama teori Big Bang. Saat terjadinya Big Bang dijadikan sebagai titik pangkal umur bumi, yaitu nol tahun.

B.     Perkembangan Bumi Setelah Terbentuk
Big Bang merupakan saat lahirnya alam semesta atau sehingga dianggap sebagai nol (t = 0) bagi bumi. Pada saat itu semua materi ledakan berupa gas. Perkembangan selanjutnya dapat digambarkan sebagai berikut.

 
Fase
Nama
Waktu (t)
Suhu (Kelvin)
Proses
1
Era Plank
0 – 10-43 detik
>1032
Penciptaan partikel-partikel yang berpasangan.
2
Era Hadron
10-42 – 7x10-5 detik
>1,6 x 1012 > 1013
Terbentuk : meson dan antimeson, nukleon (proton dan neutron). Pada t = 10-12 detik, lahir gaya electroweek yaitu gabungan gaya elektromagnetik dan gaya lemah nuklir.
3
Era Lepton
7x10-5 detik – 5 detik
6x109 – 4x103
Melanjutkan pembentukan partikel-partikel
4
Era Radiasi
5 detik – 5x105 tahun
6x109 – 4x103
Awalnya radiasi sangat dominan. Nucleosinthesis unsur-unsur ringan (detrium dan helium), formasi atom-atom
5
Era materi pertama
7x105 – 3x108

Pembentukan protogalaksi dan protocluster oleh ketidak stabilan gravitasi dan turbulensi dari alam semesta.
6
Era keruntuhan (collapse) protogalaksi
3x108 – sekarang

Pembentukan galaksi karena protogalaksi berjatuhan ke satu titik dengan kecepatan tinggi, menimbulkan panas yang tinggi pada pusat galaksi.

          Perkembangan alam semesta setelah big bang terjadi dalam enam fase (6 hari). Sekarang ini adalah fase keenam, galaksi-galaksi terus terbentuk, sambil terus mengalami pendinginan. Sampai dengan awal fase ke enam benda-benda alam tersebut masih dalam kabut gas yang panas dan berpijar, disebut stadium bintang. Dengan makin jauh jaraknya dari pusat ledakan gumpalan-gumpalan kabut mulai mendingin, dan beberapa unsur mulai mencair, disebut stadium cair. Pada saat itu terjadi peristiwa penting, yaitu deferensiasi bahan bedasarkan berat jenisnya. Hasil planet-planet termasuk juga bumi, tersusun secara gradual, dilapisan luar terdiri dari bahan-bahan ringan, makin kedalam makin berat, dan inti yang paling dalam merupakan bahan yang paling berat. Selanjutnya bahan-bahan tersebut mulai membeku membentuk planet-planet padat seperti sekarang ini. Ketika temperatur mencapai 100°C, terjadilah hujan pertama. Airnya mengisi lekukan-lekukan bumi yang disebut laut.

Ketika suhu sudah dekat dengan keadaan sekarang, mulailah kehidupan satu sel di dalam air. Bermula dari hal tersebut evolusi Darwin dimulai. Dari kehidupan satu sel terus berkembang menjadi multisel, Yang makin sempurna, sesuai keadaan alam di bumi. 

Jaman
Masa
Periode
Umur
(juta tahun)
Peristiwa yang terjadi
Kwarter
Kenozoikum
Holosen
Pliosen
Miosen
Oligosen
Eosen
0,5-1
12
26
38
58
Binatang mamalia mulai berkembang, dan pada periode holosen merupakan awal kehidupan manusia (holo=seluruh). Peristiwa alam, terjadi beberapa kali zaman es (glasial).
Tersier
Mesozoikum
Cretaceus (kapur)
Jura
Trias
127

152
182
Zaman kejayaan reptil raksasa, pemakan tumbuh-tunbuhan. Peristiwa alam berupa vulkanisme dan sedimentasi
Sekunder
Pleozoikum
Perm
Karbon
Devon
Silur
Ordovisium
Kambrium
203
255
323
350
430
510
Masa kehidupan purba (reptil, amfibi, dan berbagai jenis ikan), tumbuh-tumbuhan berkembang hebat, bersamaan dengan iklim basah dan pengendapan
Primer
Pterozoikum

2010
Awal kehidupan bersel satu

Azoikum

3000
Belum ada kehidupan
           
 
Bedasarkan hipotesis-hipotesis terbentuknya bumi, setelah stadium bintang, kemudian stadium cair, barulah stadium padat. Pada stadium cair terjadi peristiwa penting yaitu deferensiasi (pemilahan) bahan atas dasar berat jenis, sehingga bumi terdiri dari tujuh lapisan, dari materi ringan diluar dan materi berat di dalam.

A.    Perkembangan Bentuk Relief Bumi
Kita semua tau bahwa bentuk permukaan bumi tidak rata. Ada pegunungan, lembah, danau, lautan, dan sebagainya. Mengapa permukaan bumi tidak rata?
 Banyak teori yang membahas alasan ketidak rataan bumi, yaitu Teori Kontraksi, Teori Laurasia-Gondwana, Teori Pergeseran Benua.

 Teori Kontraksi
Teori ini dikemukakan oleh James Dana di AS tahun 1847. Teori ini mengemukakan bahwa bumi mulai mengalami pendinginan sebagai akibat dari konduksi panas sehingga mulailah proses pengerutan pada permukaan. Dalah hal ini dicontohkan seperti buah jeruk yang mulai mengering, maka bagian permukaannya mengerut. Bagian yang menonjol menjadi pegunungan dan yang lekuk terisi cairan menjadi lautan.
2.      Teori Laurasia-Gondwana

Setelah teori kontraksi muncul teori Laurasia-Gondwana. Teori ini dikemukakan oleh Eduard Suess tahun 1884. Dijelaskan bahwa mula-mula ada dua benua yang ada dikutub. Laurasia ada di kutub utara, sedangkan Gondwana ada di kutub selatan. Masing-masing terpecah kemudian tertarik ke arah ekuator. Gondwana terpecah menjadi Amerika Selatan, Afrika, dan Australia, sedangkan Laurasia menjadi Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
3.      Teori Pergeseran Benua

Pada awal abad XX munculah satu teori yang sangat populer, yaitu teori Pergeseran Benua. Teori ini dipelopori oleh Alferd L Wagener (1915). Menurut Wagener, benua pada awalnya hanya ada satu yang disebut Pangea. Pangea terpecah-pecah karena adanya pengaruh rotasi bumi. Pecahan benua menjadi beberapa benua seperti yang sekarang ada.

4.      Teori Pemekaran Dasar Samudera
Setelah 10 tahun setelah teori pergeseran dunia diluncurkan, muncul lagi teori atau hipotesis baru yang disebut Teori Pemekaran Dasar Samudera (Sea Floor Spreading), oleh Hess. Hess mendasarkan pemikirannya dari hasil pemotretan dasar samudera lewat satelit luar angkasa, dan ekspedisi kapal selam samudera oleh Amerika. Ternyata bahwa:
  1. Di Samudera Atlantik, Hindia, dan Pasifik Selatan terdapat igir tengah samudera (mic oceanic ridges) bahwa permukaan air, yang memanjang dan bersambung-sambung. Igir tersebut terbentuk oleh tumpukan lava berbentuk bantal (pillow lava) yang bersifat basaltik, dan masih terus dikeluarkan di sepanjang igir tersebut
  2. Di sepanjang tepi-tepi benua dijumpai palung laut (trench) yang memanjang sejajar dengan jalur pegunungan di atas benua-benua. Di samping itu,
  3.  Diketahui bahwa jarak antara eropa dan Amerika semakin bertambah. Sehingga Hess berkesimpulan bahwa dasar samudera mengalami pemekaran yang berpusat pada igir-igir tersebut. Selanjutnya igir-igir tersebut disebut sebagai pusat pemekaran (spreading center).
5.      Teori Tektonik Lempeng (Plate Tectonic)
Planet Tectonic atau pergeseran lempeng-lempeng, dikemukakan oleh Jason Morgan (Amerika) tahun 1967, sebagai penggabungan dari Teori Pergeseran Benua dan Teori Pemekaran Dasar Samudera, serta hipotesis arus pada mantel atas. Disamping itu diketahui pula bahwa pusat-pusat gempa yang aktif terdapat berdampingan sejajar dengan jalur-jalur pegunungan di darat maupun di laut.  

Bedasarkan teori Hess, kerak bumi (terdiri atas kerak dunia dan kerak samudera) seperti kulit telur sangat tipis rapuh dan pecah-pecah. Tiap-tiap pecahan itu disebut lempeng (plate). Terdapat 7 lempeng besar dan selebihnya adalah lempeng-lempeng kecil yang tidak dapat terhitung. Ada lempeng yang terdiri hanya dari atas kerak samudera saja, sehingga disebut lempeng samudera, yaitu lempeng samudera pasifik. Ada pula lempeng yang terdiri dari kerak benua saja, disebut kempeng benua, yaitu lempeng benua Eurasia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, dan Antartika. Sedangkan lempeng campuran adalah Lempeng Hindia Australia. Kerak benua sangat ringan, sehingga seolah mengapung diatas kerak samudera yang plastis (seperti kulit ari telur). Dibawahnya terdapat bagian yang cair (mantel) yang mudah bergerak, sehingga terjadi arus konveksi. Arus ini disebabkan oleh panas interior yang ditimbulkan oleh peluruhan mineral-mineral radioaktif yang terkonsentrasi di beberapa tempat pada mantel. Tempat konsentrasi tersebut memanas, bahan-bahan mencair, mendesak keatas, sehingga bagian atas yang setengah beku akan turun mengisi kekosongan di bagian bawah. Dibagian bawah panas, mencair, mendesak keatas dan seterusnya. Satu putaran arus konveksi memakan waktu ± 8 juta tahun atau dengan kecepatan antara 3 – 13 cm/tahun. Arus tersebut akan mendorong kerak di atasnya secara horizontal. Di seluruh mantel terdapat banyak sekali sel-sel konveksi, yang bergerak dengan arah dan kecepatan berbeda., sehingga pada kerak bumi trejadi gejala:
a.       Tempat yang ditinggalkan oleh dua arus konveksi dengan arah berlawanan (divergennsi), kerak bumi akan merekah dan meninggalkan celah yang menganga. Inilah spreading center, yang kemudian digunakan oleh cairan mantel atas yang bertekanan tinggik ke luar ke permukaan, sebagai vukalnisme. Zona ini disebut sebagai zona divergen (memisah).
b.       
                          Tempat, dimana dua arus konveksi saling bertemu (konvergensi), membentuk lipatan ke atas dan penyusupan ke bawah (subduksi). Zona ini disebut zona subduksi atau zona konvergen. Gejalanya lebih unik dari pada zona divergen. Bagian yang subduksi adalah lempeng yang lebih berat, yaitu lempeng samudera. Sampai kedalaman tertentu akan mencair (melting), dan mencari jalan keluar melalui retakan-retakan yang ditimbulkan oleh pelengkungan kerak benua yang diatasnya. Jika tekanannya cukup kuat akan keluar magma sebagai vulkanisme atau gunung api, dan jika tekanan tidak cukup kuat magma akan tersembunyi di dalam kerak benua sebagai gejala plutonisme (Pluto = dewa bawah tanah, Yunani Kuno).

c.                           Tempat dimana dua lempeng berpapasan atau berselipan, maka kerak bumi akan mengalami sesar geser (transfrom fault) yang arahnya melintang terhadap zona divergen maupun konvergen. Patahan ini bannyak sekali terdapat disepanjang igir tengah samudera. 

Tiga tempat tersebut merupakan letak pusat-pusat gempa bumi. Sebagai kesimpulan dari teori ini adalah :
a.       Tenaga pembentukan permukaan bumi adalah tenaga endogen (tenaga tektonik) yang bersumber dari arus konveksi di dalam mantel bumi.
b.      Gempa bumi adalah getaran dari dalam kerak bumi yang ditimbulkan oleh pergeseran lokasi (dislokasi) batuan-batuan, akibat adanya subduksi, divergensi maupun sesar geser.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
  1. Bumi adalah udara yang termampatkan hingga bentuknya pipih, dan melayang-layang di udara
  2.  Big Bang merupakan saat lahirnya alam semesta/sehingga dianggap sebagai nol (t = 0) bagi bumi, yang saat itu semua materi ledakan berupa gas
  3. Bumi bukan bola sempurna, melainkan bola yang sedikit pepat pada kedua kutubnya. Jika bumi dibelah melalui kedua kutubnya akan dihasilkan penampang berbentuk elips
  4. Orang yang pertama kali menuliskan dugaan (hipotesis) terbentuknya bumi dan seluruh alam semesta dengan menggunakan hukum-hukum fisika adalah seorang filosof Jerman bernama Imannuel Kant (1755).
  5. Perkembangan alam semesta setelah Big Bang terjadi selama enam fase, yaitu Era Plank, Era Hadron, Era Lepton, Era Radiasi, Era materi pertama, dan Era keruntuhan (collapse) protogal

DAFTAR PUSTAKA
Sudadrsono Agus,  Geografi kontekstual SMA/MA X, MEDIATAMA
Scott, Ralph C., 1989, Physical Geography, New York: West Pulishing Company.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar